Empirisme Filsafat Administrasi : Pemikiran Empirisme Herbert A. Simon
Nova Ida Rahmawati
Empirisme Filsafat Administrasi : Pemikiran Empirisme
Herbert A. Simon
Herbert A. Simon (1958) dan kawan-kawan, dalam bukunya Public Administration memberikan definisi administrasi, yaitu administration as the activities of groups cooperating to accomplish common goals (administrasi sebagai kegiatan dari kelompok yang mengadakan kerja sama untuk menyelesaikan tujuan bersama). Ia mengatakan bahwa kegiatan dua orang yang bekerja sama menggulingkan atau memindahkan sebuah batu yang tidak dapat digulingkan hanya oleh satu orang di antara mereka adalah kegiatan yang di dalamnya terdapat proses administrasi.
Namun demikian, perlu dicatat di sini bahwa tidak semua kegiatan kerja sama dapat disebut sebagai proses administrasi. Kegiatan kerja sama tersebut bisa disebut sebagai administrasi hanya apabila memenuhi syarat: kegiatan kerja sama tersebut didasarkan atas keteraturan, adanya pembagian tugas, serta tujuan yang akan dicapai dan cara untuk mencapai tujuan tersusun secara sistematis; kegiatan kerja sama tersebut merupakan kerja sama yang terorganisasi atau kerja sama keorganisasian (organizational cooperation).
Pemikiran postivisme Herbert A. Simon berupa pemikiran positivisme logis yaitu tetap berdasar pada fakta (sesuatu yang ada
sesungguhnya), tetapi juga mempertimbangkan nilai-nilai (sesuatu yang
diinginkan). Pemikiran
positivisme yang dikembangkannya tidak semata mempertimbangkan fakta dan
mengabaikan persoalan nilai yang hanya dapat dipahami secara rasional, tetapi
juga tidak berdasarkan rasionalitas mutlak yang mengabaikan fakta. Gejala yang
dipandangnya sebagai fakta adalah gejala yang nyata terjadi dan kejadiannya
dalam kenyataan sesungguhnya dalam pengertian secara logis dapat diterima
kebenarannya sebagai sesuatu yang ada. berupa :
1. Memberi tempat yang utama pada pengalaman empiris.
2.
Menghargai
analisis yang tegas dan logis
3.
Tidak
menyukai hal- hal yang bersifat metafisika.
4.
Menjauhi
soal-soal yang bersifat etika.
5. Melakukan pemisahan yang tegas antara fakta sesungguhnya
dengan nilai yang diinginkan.
Ilmu administrasi dalam aktualisasi konsepnya terdapat pada unsur organisasi dan manajemen. Kedua unsur tersebut dalam aktualisasinya menggambarkan hubungan kemanusiaan yang berlangsung dalam kerangka kerja sama dan kegiatan-kegiatan yang berlangsung secara fungsional, prosedural, dan sistemis. Oleh karenanya untuk mencapai tujuan yang dikehendaki bersama diperlukan kemampuan mengarahkan, mengendalikan, dan kepengurusan hubungan yang berlangsung.
Menurut Herbert A. Simon akar terdalam atau esensi dalam ilmu administrasi
adalah
Pengambilan
keputusan berangkat dari keteraturan, pengaturan dan kepemerintahan. Oleh sebab itu proses
pengambilan keputusan harus berlangsung dalam keteraturan, pengaturan, hingga
dalam kepemerintahan dalam arti yang luas. Kemudian, pengambilan keputusan itu berupa pilihan
kehendak dan pilihan alternatif.
Menurutnya kebenaran
dalam keputusan administratif yaitu relatif keputusan itu benar kalau ia
memilih cara-cara yang tepat untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Pemilihan cara yang tepat jika dilakukan atas dasar fakta,
maka keputusan akan sesuai tuntutan empiris, tapi jika pilihan itu dilakukan
atas dasar nilai rasional, keputusannya disebut rasional. Teori administrasi secara khas juga merupakan teori rasionalitas yang
diharapkan untuk berusaha mencapai titik maksimum secara efisen.
Dalam pemikiran positivisme Herbert A. Simon membedakan :
1. Manusia ekonomi
·
Memilih
untuk mendapatkan segala sesuatu dengan segala keruwetannya.
·
Tidak
mudah puas.
2.
Manusia
administrasi
·
Mengutamakan
kepuasan.
·
Menyukai
jika segala sesuatu disederhanakan / tidak ruwet
Daftar Pustaka
Ali, M. Faried. 2004. Filsafat
Administrasi. Jakarta: Raja Grafindo. Hlm. 109,120,122.
https://slidetodoc.com/empirisme-dalam-filsafat-administrasi-3-pemikiran-positivisme-herbert/
Komentar
Posting Komentar